Memperbaiki Kesalahan
Sebelumnya maap nih kalo bahasa yang saya pake agak berantakan, lagi males rapi.
Hari Rabu, 6 Oktober lalu merupakan hari perdana latihan bulu tangkis yang ada latihannya. Bingung? Jadi gini, biasanya hari Rabu tuh jadwalnya buat main-main, gak pake latihan. Karena jadwal latihan rutin (yang pake pelatih dan latihan fisik serta step/langkah) cuma ada hari Minggu sore. Nah, yang latihan Rabu ini edisi spesial, karena latihannya cuma sejam dan yang ngelatih juga dari UBT, jadi bisa dibilang lumayan santai lah latihannya.
Seperti biasa, setelah azan isya berkumandang saya langsung capcus ke GOR, dengan berjalan kaki sekitar 5 menit. Setelah sampai di GOR saya bergegas ganti sepatu, pemanasan dan ikutan latihan bersama rekan-rekan UBT lainnya, sekitar 10 orang yang ingin belajar dari nol seperti saya. Saya langsung dihandle oleh salah satu anggota UBT yang jago dan ia mengajarkan saya mulai dari cara megang raket dan cara memukul bola. Terdengar simpel, ya? Kalau untuk urusan cara megang raket saya sudah cukup pede, karena kan sering main dan dari TPB udah dikasi tau cara megang raket yang bener, yang kaya orang salaman. Nah, yang cara mukul bola, atau kok, saya baru tau kemaren, kalau ternyata selama ini cara mukul saya salah. Wajar saja setiap saya mukul pasti bolanya nanggung atau gak bisa kenceng, kalopun bisa ya sesekali saja.
Saya dituntun mulai dari cara megang raket, mengatur sudut kemiringan tangan (bingung saya kata-katanya --") hingga cara mengayunkan raket dan posisi kaki kanan yang tadinya di belakang kaki kiri harus ke depan setelah memukul kok. Simpel sih sebenernya, tapi karena belum biasa, atau terbiasa melakukan yang tidak benar (jadi main seenaknya saja, tanpa teknik memukul yang benar seperti yang baru saja diajarkan hari itu), jadi cukup susah juga. Awalnya latihan memukul ini tanpa kok, jadi kami hanya mencoba memukul dengan teknik yang sudah diajarkan sambil terus diulang-ulang. Setelah sekitar 30 menit, saya masih belum juga terbiasa, sudut kemiringannya belum sempurna, kaki kanannya ketinggalan di belakang, capek juga. Tapi latihan masih harus terus berlanjut dan sekarang latihan pakai kok.
Wedew, mukul ga pake kok aja masih salah-salah, pikir saya. Namun kata sang pelatih, sekalian nyoba mukul pas ada kok, biar bisa ngira-ngira harus mukul pas kapan. Tapi karena masih nyoba, yang penting sekarang cara mukulnya yang bener, jadi ga kena koknya juga gapapa, yang penting bener. Lalu tibalah giliran saya untuk mencoba latihan ini dengan menggunakan kok. Kok dilob oleh pelatih, lalu saya sudah memasang ancang-ancang untuk membalas dengan lob lagi. Namun sayang seribu sayang, saya telat, alhasil kok jatuh ke lapangan. Gagal. Kok kedua, dipukul lob juga, saya pun memasang ancang-ancang untuk mengembalikan kok. Pak! Berhasil saya kembalikan, senang sih, tapi si pelatih langsung mendekati saya, sambil berkata, "salah mukulnya, tangannya kurang ditarik ke belakang" Coba lagi, salah lagi, begitu terus hingga giliran saya selesai. Stres juga benerin cara mukul doang.
Saya duduk di pinggir lapangan sambil ngobrol dengan salah satu peserta latihan juga, dan dia mengeluhkan juga betapa susahnya memperbaiki cara memegang dan memukul kok, karena sudah terbiasa dengan caranya sendiri. Lalu kami memperhatikan peserta latihan lain yang sedang memukul kok bersama pelatih, (kurang lebih) berikut dialognya:
W: Susah ya ngebenerinnya, kak. Apalagi yang bagian kalo pas mukul kaki kanannya juga harus ikutan maju. Liat si X aja dari tadi kakinya di belakang aja.
A: Iya sih, (sambil memperhatikan peserta yang lain) tapi si I bisa itu kakinya ikutan ke depan pas mukul.
W: ya kan dia jarang latihan, jadi belom kebentuk pola mainnya, jadi lebih gampang juga buat dia ngikutinnya.
A: oh iya ya, kayaknya aku baru liat dia latihan hari ini.
Lalu si I selesai memukul kok dan giliran si W lagi untuk latihan.
A: Eh, I, kayanya aku jarang liat kamu latian
I: iya emang kak, hahaha. Ini latihan pertama aku.
A: SERIUS? Kamu sebelumnya belom pernah dateng sama sekali?!
I: ya pernah sih sebelumnya dateng pas latihan minggu, pas jaman2 liburan semester kemaren. Tapi ya saya cuma liat-liat doang ga ikutan latihan. Ikut latihan ya baru sekarang ini.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Esoknya saat akan ke kampus, saya naik angkot seperti biasa, sambilbengong berkelana dalam pikiran sendiri. Seperti kata seseorang di 9GAG, masa-masa kita banyak mikir (kontemplasi, merenung apapunlah bahasanya) adalah saat kita ada di toilet dan di kendaraan umum.
Terkait dengan judulnya nih, memperbaiki kesalahan, jadi secara kasar mungkin pembaca udah nangkep maksud saya gimana lah ya.
Jika anak kecil sejak dulu telah diajarkan sesuatu yang benar, dan terus-menerus dilakukan olehnya maka begitu ia dewasa itu akan menjadi kebiasaan baginya. Sehingga bukan merupakan hal yang baru untuknya, bahkan mungkin akan sulit dihilangkan darinya kebiasaan tersebut.
Sementara jika ada anak kecil yang sering melakukan kesalahan namun dibiarkan saja, ia akan menganggap hal tersebut baik-baik saja untuk dilakukan. Maka saat ia dewasa dan mengetahui hal tersebut salah, akan sulit baginya untuk memperbaiki kebiasaan yang salah tersebut, namun bukan hal mustahil untuk memperbaikinya, minimal ada niat.
Sebagai penutup, saya mau ngasi beberapa quote nih dari beberapa sumber, yang bisa dibilang inspirasi saya nulis ini. Cekidot
Hari Rabu, 6 Oktober lalu merupakan hari perdana latihan bulu tangkis yang ada latihannya. Bingung? Jadi gini, biasanya hari Rabu tuh jadwalnya buat main-main, gak pake latihan. Karena jadwal latihan rutin (yang pake pelatih dan latihan fisik serta step/langkah) cuma ada hari Minggu sore. Nah, yang latihan Rabu ini edisi spesial, karena latihannya cuma sejam dan yang ngelatih juga dari UBT, jadi bisa dibilang lumayan santai lah latihannya.
Seperti biasa, setelah azan isya berkumandang saya langsung capcus ke GOR, dengan berjalan kaki sekitar 5 menit. Setelah sampai di GOR saya bergegas ganti sepatu, pemanasan dan ikutan latihan bersama rekan-rekan UBT lainnya, sekitar 10 orang yang ingin belajar dari nol seperti saya. Saya langsung dihandle oleh salah satu anggota UBT yang jago dan ia mengajarkan saya mulai dari cara megang raket dan cara memukul bola. Terdengar simpel, ya? Kalau untuk urusan cara megang raket saya sudah cukup pede, karena kan sering main dan dari TPB udah dikasi tau cara megang raket yang bener, yang kaya orang salaman. Nah, yang cara mukul bola, atau kok, saya baru tau kemaren, kalau ternyata selama ini cara mukul saya salah. Wajar saja setiap saya mukul pasti bolanya nanggung atau gak bisa kenceng, kalopun bisa ya sesekali saja.
Saya dituntun mulai dari cara megang raket, mengatur sudut kemiringan tangan (bingung saya kata-katanya --") hingga cara mengayunkan raket dan posisi kaki kanan yang tadinya di belakang kaki kiri harus ke depan setelah memukul kok. Simpel sih sebenernya, tapi karena belum biasa, atau terbiasa melakukan yang tidak benar (jadi main seenaknya saja, tanpa teknik memukul yang benar seperti yang baru saja diajarkan hari itu), jadi cukup susah juga. Awalnya latihan memukul ini tanpa kok, jadi kami hanya mencoba memukul dengan teknik yang sudah diajarkan sambil terus diulang-ulang. Setelah sekitar 30 menit, saya masih belum juga terbiasa, sudut kemiringannya belum sempurna, kaki kanannya ketinggalan di belakang, capek juga. Tapi latihan masih harus terus berlanjut dan sekarang latihan pakai kok.
Wedew, mukul ga pake kok aja masih salah-salah, pikir saya. Namun kata sang pelatih, sekalian nyoba mukul pas ada kok, biar bisa ngira-ngira harus mukul pas kapan. Tapi karena masih nyoba, yang penting sekarang cara mukulnya yang bener, jadi ga kena koknya juga gapapa, yang penting bener. Lalu tibalah giliran saya untuk mencoba latihan ini dengan menggunakan kok. Kok dilob oleh pelatih, lalu saya sudah memasang ancang-ancang untuk membalas dengan lob lagi. Namun sayang seribu sayang, saya telat, alhasil kok jatuh ke lapangan. Gagal. Kok kedua, dipukul lob juga, saya pun memasang ancang-ancang untuk mengembalikan kok. Pak! Berhasil saya kembalikan, senang sih, tapi si pelatih langsung mendekati saya, sambil berkata, "salah mukulnya, tangannya kurang ditarik ke belakang" Coba lagi, salah lagi, begitu terus hingga giliran saya selesai. Stres juga benerin cara mukul doang.
Saya duduk di pinggir lapangan sambil ngobrol dengan salah satu peserta latihan juga, dan dia mengeluhkan juga betapa susahnya memperbaiki cara memegang dan memukul kok, karena sudah terbiasa dengan caranya sendiri. Lalu kami memperhatikan peserta latihan lain yang sedang memukul kok bersama pelatih, (kurang lebih) berikut dialognya:
W: Susah ya ngebenerinnya, kak. Apalagi yang bagian kalo pas mukul kaki kanannya juga harus ikutan maju. Liat si X aja dari tadi kakinya di belakang aja.
A: Iya sih, (sambil memperhatikan peserta yang lain) tapi si I bisa itu kakinya ikutan ke depan pas mukul.
W: ya kan dia jarang latihan, jadi belom kebentuk pola mainnya, jadi lebih gampang juga buat dia ngikutinnya.
A: oh iya ya, kayaknya aku baru liat dia latihan hari ini.
Lalu si I selesai memukul kok dan giliran si W lagi untuk latihan.
A: Eh, I, kayanya aku jarang liat kamu latian
I: iya emang kak, hahaha. Ini latihan pertama aku.
A: SERIUS? Kamu sebelumnya belom pernah dateng sama sekali?!
I: ya pernah sih sebelumnya dateng pas latihan minggu, pas jaman2 liburan semester kemaren. Tapi ya saya cuma liat-liat doang ga ikutan latihan. Ikut latihan ya baru sekarang ini.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Esoknya saat akan ke kampus, saya naik angkot seperti biasa, sambil
Terkait dengan judulnya nih, memperbaiki kesalahan, jadi secara kasar mungkin pembaca udah nangkep maksud saya gimana lah ya.
Jika anak kecil sejak dulu telah diajarkan sesuatu yang benar, dan terus-menerus dilakukan olehnya maka begitu ia dewasa itu akan menjadi kebiasaan baginya. Sehingga bukan merupakan hal yang baru untuknya, bahkan mungkin akan sulit dihilangkan darinya kebiasaan tersebut.
Sementara jika ada anak kecil yang sering melakukan kesalahan namun dibiarkan saja, ia akan menganggap hal tersebut baik-baik saja untuk dilakukan. Maka saat ia dewasa dan mengetahui hal tersebut salah, akan sulit baginya untuk memperbaiki kebiasaan yang salah tersebut, namun bukan hal mustahil untuk memperbaikinya, minimal ada niat.
Sebagai penutup, saya mau ngasi beberapa quote nih dari beberapa sumber, yang bisa dibilang inspirasi saya nulis ini. Cekidot
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri." QS 13:11
"Jangan pernah meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikit pun tidak pernah!" - pak Pelatih dari novel 2, karya Donny Dhirgantoro
"Nobody said it was easy, no one ever said it would be this hard. Oh take me back to the start" - The Scientist by Coldplay
Komentar
Posting Komentar