Pagi Cerah, Hati Mendung, Siang Hujan
Sebelum saya mulai, saya mohon maaf kepada para pembaca atas segala kesalahan yang saya perbuat. Baik yang terlihat, tak terlihat maupun yang disengaja dan tidak disengaja. Yak langsung saja saya bercerita tentang kelamnya hati ini di hari yang indah.
Pagi ini saya bangun dengan flu yang sedikit berat, suara sengau, dan radang tenggorokan. Tapi saya tak pedulikan itu karena saya ingin menikmati hari libur pertama saya setelah 2 minggu penuh pergi ke kampus. Meski di kampus menyenangkan, tentu kita ingin merasakan damainya hari dengan bersantai-santai di asrama/kosan/rumah.
Setelah bangun dari tempat tidur dan melaksanakan ‘ritual’ di pagi hari, saya diajak teman saya bermain bulu tangkis. Tentu saya langsung menyetujuinya, karena saya ingin menjadi manusia yang lebih atletis dan memulai hari dengan keringat, yang menumbuhkan semangat untuk menjalani aktivitas selanjutnya. Kami pun bermain dengan penuh tawa dan semangat, meski permainan kami tak seindah permainan para atlet bulu tangkis. Keringat pun bercucuran, seharusnya begitu, tapi entah kenapa keringat yang keluar tak seperti biasanya. Keringat yang keluar seperti mampet, jadi hanya setitik-setitik yang keluar. Sepertinya saya sakit, tapi karena segar setelah berkeringat, saya tetap melanjutkan bermain hingga tak ada yang mau main. Merasa paling kuat di antara kawan-kawan, saya ajak mereka untuk push-up dan sit-up. Saya tak mampu sit-up lebih dari 5 kali, dan push-up hanya 2 kali karena lantai licin dan sudah lelah.
Kemudian kami mencuci pakaian sembari mandi. Biasanya kawan-kawan mencuci pakaian sambil menyanyi, lagu apa pun yang ingin mereka nyanyikan. Tadi mereka menyanyikan berbagai macam lagu yang membuat saya sembab, yaitu tentang orang tua. Yah, sudah berminggu-minggu saya tak pulang ke rumah, dan orang tua saya juga sudah menelpon beberapa kali, mengusulkan saya untuk pulang pada hari libur. Namun tak saya pedulikan karena saya pikir tanggung, sebentar lagi juga saya pulang untuk mudik ke kampung. Dan saya pikir juga rasa kangen mereka bisa terhapus dengan mendengar suara saya, ternyata belum. Lalu saya kena karma menangis deras saat mencuci baju, di hadapan teman-teman. Sungguh memalukan.
Selesai mencuci, menjemur, menyetrika pakaian, saya langsung tiduran di tempat tidur untuk meluruskan tulang punggung. Saya melihat tulisan,
“Jangan kecewakan orang-orang yang PERCAYA padamu,”di langit-langit tempat tidur (tempat tidur saya bertingkat). Lagi-lagi hati saya terenyuh, teringat akan kata-kata sahabat saya, yang ia ucapkan sebelum saya memulai hari saya sebagai anak Bandung,
“ Gw udah kenal lama ama lo, gw udah tau lo orang yang kayak apa, pesen gw buat lo, jangan sampai lo salah pilih temen, karena gw ga mau lo berubah ke arah yang ga baik, jaga hati lo di sana, jangan sampai lo jatuh ke tempat yang salah, dan jangan kecewain gw, karena gw percaya ama lo.”
Komentar
Posting Komentar