Keluarga Kedua
Pada entri sebelumnya, saya sudah berjanji akan bercerita tentang unit yang saya tekuni di kampus saya. Ya, UBT ITB, Unit Bulu Tangkis Institut Teknologi Bandung. Dan saya merasa unit ini benar-benar sesuai dengan apa yang saya butuhkan, karena para senior membimbing kami semua untuk membentuk satu angkatan yang benar-benar solid, bertanggung jawab, punya inisiatif yang besar dan tidak takut mengambil resiko.
Oh, ya. Sebelum saya cerita lebih lanjut, lebih baik saya ceritakan secara kronologis. Jadi begini...
Pada saat OHU (Open House Unit), kami semua (maba) mendaftarkan diri ke unit-unit yang ingin kami tekuni. Saat itu, saya bimbang, karena saya ingin mengikuti unit olahraga, tapi di antara bela diri, olah raga permainan (seperti bulu tangkis, sepak bola, basket dkk) dan pecinta alam. Karena kebetulan senior yang saya kenal ada di UBT, tanpa pikir panjang saya pun langsung mendaftar ke sana. Kemudian, pertemuan pertama para calon anggota UBT, atau biasa disingkat ca.UBT dilaksanakan seminggu setelah OHU. Begitu banyak orang di sana, ada sekitar 300 ca.UBT, yang harus mengikuti MPAB (Masa Penerimaan Anggota Baru) supaya dapat diterima menjadi anggota.
Awalnya, kami UBT hanya sekedar bermain bulu tangkis, kalaupun ada interaksi, hanya interaksi kelompok kecil yang kadang lebih banyak diam atau bicara tanpa arah. Namun, seiring berjalannya waktu mulai terlihat proses MPAB-nya. Seperti saat bulan Ramadhan kemarin, kami ca.UBT diwajibkan membuat acara buka puasa bersama, lalu beberapa minggu setelah lebaran, kami harus memberikan kontribusi nyata kami untuk GBC (Ganesha Badminton Championship) yang merupakan acara besar UBT ITB.
Tapi, karena ca.UBT belum punya pemimpin saat sebelum GBC, senior memutuskan kami harus mempunyai papi angkatan (istilah lain dari PJ angkatan). Karena tidak ada ca.UBT yang mau mengajukan diri, senior bertanya, "siapa dari kalian yang dalam 3 pertemuan terakhir selalu datang?"
Ada 3 orang yang mengangkat tangan, yang pertama saya, yang kedua sebut saja F (lk) dan yang ketiga sebut saja N (lk). Kemudian senior bertanya kepada mereka berdua, "siapa yang mau jadi papi?"
Tidak seorangpun dari mereka yang mau, sehingga diputuskan melalui voting. Hasil voting menunjukkan F lah yang menjadi papi angkatan. Lalu senior bilang, "Papi kerjanya tidak sendirian, ada pendampingnya, mami angkatan!"
Perasaan saya sudah tidak enak, karena saat tadi senior bertanya soal 3 pertemuan terakhir datang terus, hanya saya yang perempuan. Lalu senior bertanya, "ada yang mau jadi mami?"
Tak ada yang angkat tangan. Senior yang lain berkata, "dia aja (sambil menunjuk ke saya) kan rajin dateng, gimana? kamu mau gak?"
Saya menjawab, "kalo yang laen ada yang minat, yang laen aja, Kak." sekali lagi senior menawarkan ke yang lain, tapi hasilnya sudah bisa ditebak.Akhirnya secara terpaksa, kami berdua menjadi PJ angkatan ca.UBT 2010, saya dan si F. Meski demikian, kami lebih sering dipanggil sebagai papi-mami ketimbang PJ angkatan.
Mungkin sekian dulu untuk saat ini, sebenarnya masih sangat banyak yang ingin saya ceritakan tentang UBT, karena bisa dibilang, UBT ini adalah keluarga saya di ITB, yang membuat saya betah di ITB. Tempat saya melepas lelah dan berbagi keceriaan. Mungkin agak berlebihan, ya. Yah, saya mohon doa dari para pembaca supaya UAS kami semua sukses dan kami semua bisa menjadi UBT 2010, ya, tanpa ca.
Terima kasih selalu membaca blog saya, semoga hari-hari pembaca selalu menyenangkan.
Oh, ya. Sebelum saya cerita lebih lanjut, lebih baik saya ceritakan secara kronologis. Jadi begini...
Pada saat OHU (Open House Unit), kami semua (maba) mendaftarkan diri ke unit-unit yang ingin kami tekuni. Saat itu, saya bimbang, karena saya ingin mengikuti unit olahraga, tapi di antara bela diri, olah raga permainan (seperti bulu tangkis, sepak bola, basket dkk) dan pecinta alam. Karena kebetulan senior yang saya kenal ada di UBT, tanpa pikir panjang saya pun langsung mendaftar ke sana. Kemudian, pertemuan pertama para calon anggota UBT, atau biasa disingkat ca.UBT dilaksanakan seminggu setelah OHU. Begitu banyak orang di sana, ada sekitar 300 ca.UBT, yang harus mengikuti MPAB (Masa Penerimaan Anggota Baru) supaya dapat diterima menjadi anggota.
Awalnya, kami UBT hanya sekedar bermain bulu tangkis, kalaupun ada interaksi, hanya interaksi kelompok kecil yang kadang lebih banyak diam atau bicara tanpa arah. Namun, seiring berjalannya waktu mulai terlihat proses MPAB-nya. Seperti saat bulan Ramadhan kemarin, kami ca.UBT diwajibkan membuat acara buka puasa bersama, lalu beberapa minggu setelah lebaran, kami harus memberikan kontribusi nyata kami untuk GBC (Ganesha Badminton Championship) yang merupakan acara besar UBT ITB.
Tapi, karena ca.UBT belum punya pemimpin saat sebelum GBC, senior memutuskan kami harus mempunyai papi angkatan (istilah lain dari PJ angkatan). Karena tidak ada ca.UBT yang mau mengajukan diri, senior bertanya, "siapa dari kalian yang dalam 3 pertemuan terakhir selalu datang?"
Ada 3 orang yang mengangkat tangan, yang pertama saya, yang kedua sebut saja F (lk) dan yang ketiga sebut saja N (lk). Kemudian senior bertanya kepada mereka berdua, "siapa yang mau jadi papi?"
Tidak seorangpun dari mereka yang mau, sehingga diputuskan melalui voting. Hasil voting menunjukkan F lah yang menjadi papi angkatan. Lalu senior bilang, "Papi kerjanya tidak sendirian, ada pendampingnya, mami angkatan!"
Perasaan saya sudah tidak enak, karena saat tadi senior bertanya soal 3 pertemuan terakhir datang terus, hanya saya yang perempuan. Lalu senior bertanya, "ada yang mau jadi mami?"
Tak ada yang angkat tangan. Senior yang lain berkata, "dia aja (sambil menunjuk ke saya) kan rajin dateng, gimana? kamu mau gak?"
Saya menjawab, "kalo yang laen ada yang minat, yang laen aja, Kak." sekali lagi senior menawarkan ke yang lain, tapi hasilnya sudah bisa ditebak.Akhirnya secara terpaksa, kami berdua menjadi PJ angkatan ca.UBT 2010, saya dan si F. Meski demikian, kami lebih sering dipanggil sebagai papi-mami ketimbang PJ angkatan.
Mungkin sekian dulu untuk saat ini, sebenarnya masih sangat banyak yang ingin saya ceritakan tentang UBT, karena bisa dibilang, UBT ini adalah keluarga saya di ITB, yang membuat saya betah di ITB. Tempat saya melepas lelah dan berbagi keceriaan. Mungkin agak berlebihan, ya. Yah, saya mohon doa dari para pembaca supaya UAS kami semua sukses dan kami semua bisa menjadi UBT 2010, ya, tanpa ca.
Terima kasih selalu membaca blog saya, semoga hari-hari pembaca selalu menyenangkan.
Komentar
Posting Komentar